Isu Munaslub Golkar, Bahlil Singgung Pengkhianat Politik
Setelah isu Munaslub Golkar beredar lewat poster digital, pengurus partai menampik adanya keretakan. Ahmad Doli Kurnia Tanjung menyebut tidak tahu isu tersebut, sementara Bahlil Lahadalia menyebut selebaran hoaks dan menyinggung pengkhianat politik.
Dalam artikel ini 4 bagian
Isu Munaslub Golkar Kembali Disoal
Wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa atau Munaslub Partai Golkar kembali beredar beberapa hari terakhir. Pengurus partai menampik adanya keretakan internal, sehingga isu tersebut masih perlu dibaca sebagai kabar yang belum terkonfirmasi secara resmi. Menurut laporan Kompas.com, perbincangan ini muncul setelah sejumlah poster digital tersebar di platform media sosial.
Dalam poster yang diunggah beberapa akun di X, terlihat nama Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tanjung. Poster itu menyertakan kalimat “Sukseskan Munaslub Partai Golkar. Selamatkan Partai Golkar dari Gang Solo. Calon Ketua Umum Ahmad Doli Kurnia Tanjung, tokoh sentral Partai Golkar”. Rumusan tersebut membuat wacana munaslub cepat diperbincangkan, padahal partai belum mengumumkan jadwal resmi.
Penampikan itu muncul saat poster menyebut tokoh internal partai dan menyiratkan perubahan kepemimpinan. Kalimat semacam itu biasanya dibaca sebagai isyarat politik, terutama ketika nama tokoh disebut sebagai calon ketua umum. Poster tersebut juga menyebut frasa Gang Solo, sehingga narasi penyelamatan partai dari kelompok tertentu menjadi bagian dari isi selebaran. Tanpa dasar formal, poster tidak otomatis menjadi legitimasi penyelenggaraan munaslub.
Penyangkalan Pengurus dan Jejak Isu Terdahulu
Ahmad Doli Kurnia Tanjung membantah keterlibatannya dalam beredarnya poster tersebut. Dalam keterangannya pada Sabtu (7/11/2026), dia mengaku sama sekali tidak tahu mengenai isu munaslub yang disebut akan digelar pada 29 November 2026. Doli juga menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kaitan dengan penyebaran kabar tersebut.
Dia menjelaskan bahwa pendekatannya selalu konstitusional dan institusional, termasuk memahami AD/ART serta aturan organisasi partai. Doli menggambarkan hubungannya dengan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, sebagai baik secara pribadi. Dia menyebut sudah berkoordinasi dengan Bahlil dan menyadari adanya pihak yang mencoba memperkeruh suasana. Dia menambahkan bahwa selama ini dirinya memiliki hubungan harmonis, sinergi, produktif, dan saling menghormati dalam mengelola partai.
Kompas.com juga mencatat bahwa isu munaslub bukan pertama kali muncul. Pada 5 Agustus 2025, beredar kabar bahwa partai akan menggelar munaslub dalam waktu dekat. Kabar itu mengeklaim Istana sudah merestui kudeta terhadap Bahlil dari pucuk partai, dan nama Nusron disebut-sebut dipanggil ke Hambalang untuk mengagendakan munaslub sebelum 2026 sebelum akhirnya menguap.
Bahlil Menyebut Selebaran dan Pengkhianat Politik
Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, juga menolak isu tersebut. Dalam acara Rakornas bidang Media dan Penggalangan Opini serta Semiloka Kecerdasan Artificial Partai Golkar di Kantor DPP, Slipi, Jakarta, Jumat (6/11/2026), Sarmuji menyebut, “Alah, isu opo.” Respons itu menunjukkan bahwa jajaran pengurus partai belum menerima narasi munaslub sebagai keputusan resmi. Pernyataan singkat itu menegaskan sikap penolakan terhadap isu yang tidak memiliki dasar resmi.
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menanggapi isu itu saat menghadiri pelantikan DPD I Partai Golkar Maluku di Ambon, Sabtu (7/11/2026). Acara itu disiarkan langsung di kanal YouTube Kabar Golkar. Bahlil mengatakan bahwa ada flyer hoaks yang ingin membuat persoalan, lalu menyebut, “Saya sudah tahu orang-orang itu.” Dia juga menggunakan istilah “abuleke” yang berarti pembohong atau munafik dalam bahasa Ambon. Dia juga menyebut selebaran itu datang dari pihak yang tidak loyal.
Bahlil kemudian berbicara soal kesetiaan dan pengkhianatan. Dia menyebut pengkhianat menggunakan politik devide et impera, tetapi dia mengklaim sudah mengetahui taktik tersebut. Dengan nada santai, Bahlil berkata, “Adik, kau baru mau tulis, kakak sudah baca. Saya sudah tahu gaya-gayanya.” Pernyataan itu memperlihatkan bahwa dinamika internal partai sedang dibaca sebagai manuver politik, bukan sekadar kabar organisatoris. Dia juga menyinggung karakter bangsa Timur yang loyal, setia, dan taat kepada atasan.
Konteks Dinamika Partai dan Peluang Wacana
Dari rangkaian keterangan tersebut, isu munaslub belum dapat dipastikan sebagai agenda resmi Partai Golkar. Pengurus yang menyebut penampikan terdiri atas Ahmad Doli Kurnia Tanjung dan Sarmuji, sementara Bahlil Lahadalia menanggapi selebaran sebagai hoaks. Dengan demikian, pembaca perlu membedakan antara rumor, klaim pihak tertentu, dan keputusan resmi yang biasanya diumumkan melalui forum organisasi. Pembedaan ini penting agar informasi publik tidak tercampur dengan spekulasi.
Konteksnya juga penting karena isu munaslub pernah muncul pada 5 Agustus 2025. Saat itu, kabar mengeklaim adanya restu Istana dan rencana pertemuan di Hambalang, tetapi kemudian menguap. Pola berulang semacam itu membuat pernyataan pejabat partai perlu dipandang sebagai penegasan kembali bahwa organisasi masih berjalan menurut AD/ART dan hierarki kewenangan. Pendekatan institusional yang disebut Doli menjadi rujukan utama bagi penilaian internal partai.
Bagi pengamat dan publik, perkembangan berikutnya dapat ditandai oleh apakah partai mengumumkan forum resmi, jadwal, dan mekanisme pemilihan. Selama tidak ada pengumuman resmi, narasi munaslub tetap berada pada level isu dan spekulasi. Sebagai bahan bacaan lain, Arsip artikel Publication Channel dapat menjadi rujukan untuk mengikuti isu-isu politik dalam arsip berita. Pembaca juga dapat memperhatikan apakah forum partai mengeluarkan keterangan resmi terkait jadwal maupun keabsahan agenda.
Gambar utama merupakan ilustrasi yang dibuat dengan AI, bukan dokumentasi kejadian.
Topik dalam berita