Pasukan Siber Korea Utara: Dikembangkan Sejak SMP
Artikel ini merangkai fakta dari Kompas.com tentang pasukan siber Korea Utara, mulai dari rekrutmen sejak SMP, peran unit militer, fasilitas elite, hingga operasi kripto dan AI yang dianggap membahayakan target global.
Dalam artikel ini 4 bagian
Pasukan Siber dalam Perhitungan Rezim
Berdasarkan liputan Kompas.com, Korea Utara dilaporkan membangun kelompok peretas yang oleh FBI dan Binance diidentifikasi sebagai TraderTraitor, terduga pelaku pencurian siber terbesar di dunia pada bulan lalu. Serangan itu mencakup peretasan Binance dengan nilai sekitar 6,3 miliar dollar AS. Pyongyang menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai provokasi politik yang dibuat-buat.
Artikel itu merujuk pada Reuters pada 6 November 2026 untuk menggambarkan rekam jejak pasukan siber Korea Utara. Unit serupa sudah dibentuk pada 1998, lalu ditingkatkan statusnya pada 2013 ketika Kim Jong Un menempatkan perang siber sebagai kemampuan negara yang penting, sejajar dengan rudal dan senjata nuklir. Seiring waktu, kelompok ini berevolusi dari pengelola situs judi menjadi pelaku kejahatan siber tingkat tinggi.
Gelar resmi peretas di lingkungan negara itu disebut sebagai ilmuwan atau peneliti, sementara media pemerintah kerap menonjolkan siswa berbakat di bidang pemrograman. Pada 2024, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan memperkirakan operasi perang siber Korea Utara mempekerjakan sekitar 8.400 orang. Data itu menegaskan peran pasukan siber sebagai bagian dari arsitektur negara yang dikelola secara terpusat.
Seleksi Dini dan Jalur Pendidikan yang Ditentukan Negara
Program rekrutmen itu disebut berlangsung lebih dari satu dekade. Pemerintah secara sistematis menyeleksi anak berusia 11 atau 12 tahun di bangku SMP, lalu memilih sekitar 150 hingga 200 siswa paling cerdas setiap tahun untuk belajar ilmu komputer. Seleksi berikutnya dilakukan pada usia 17, ketika siswa dengan nilai tertinggi dikirim ke universitas unggulan di Korea Utara.
Dari gelombang itu, hanya segelintir yang lolos ke unit siber militer untuk menjadi peretas. Mereka yang tidak terpilih tetap dilatih, tetapi diarahkan ke pekerjaan jarak jauh, seperti membuat perangkat lunak atau aplikasi untuk perusahaan Barat. Pelatihan inti mencakup protokol mata uang kripto, rekayasa balik perangkat keras asing, matematika lanjutan, dan penguasaan bahasa asing.
Kim Heung-kwang, seorang pembelot yang pernah melatih peretas Korea Utara sebelum melarikan diri ke Korea Selatan pada 2004, menggambarkan proses itu sebagai sistem produksi agen. Menurut dia, rezim mencari anak-anak paling cerdas secara terstruktur dan mengubah mereka menjadi aset operasi. Apakah mereka ingin menjadi peretas atau tidak, kata dia, bukan pertimbangan utama.
Imbalan Elite, Fasilitas, dan Beban Tekanan
Jabatan sebagai peretas rezim membawa imbalan besar bagi individu. Unit militer hacker dapat memperoleh hingga 30 persen dari keuntungan pencurian dalam bentuk dollar AS. Imbalan itu juga membuka akses ke keanggotaan partai penguasa, pernikahan dengan keluarga elite, serta izin bepergian ke negara sekutu seperti China untuk memanfaatkan internet.
Pemerintah juga membangun simbol status bagi kelompok ini. Pada 2015, Jalan Ilmuwan Mirae dibuka di Pyongyang, proyek yang menurut liputan melibatkan keterlibatan langsung Kim Jong Un. Lim Jongin menambahkan bahwa ada laporan mengenai apartemen yang diberikan kepada personel siber yang sukses, dengan luas yang bisa mencapai 132 meter persegi dan tempat tinggal untuk orang tua.
Di balik fasilitas itu, pekerja menghadapi tekanan berat. Laporan PSCORE dan kesaksian mantan pekerja IT menggambarkan ruang tinggal sempit, pengawasan ketat, serta jam kerja yang sering melebihi 10 jam sehari. Target bulanan dalam dollar AS membuat mereka terus berada di bawah ancaman hukuman, penghinaan, dan masalah kesehatan akibat stres.
Operasi Bertenaga AI dan Target yang Makin Besar
Kapabilitas teknis pasukan ini diperkuat oleh pemanfaatan AI dan tata kerja yang ketat. Dalam kasus Binance, peretas diduga menggunakan wawancara kerja palsu serta perangkat lunak tersembunyi di dalam iklan untuk menyusup ke komputer staf, kemudian memakai perangkat AI internal untuk mengendalikan sistem. Tim pemantau sanksi PBB dari 11 negara anggota juga mencatat pada 2025 bahwa TraderTraitor menggunakan akun ChatGPT dan DeepSeek.
Alec Zebrick dari Chainalysis menilai keberanian operasional para peretas Korea Utara lahir dari status mereka sebagai agen negara. Mereka tidak khawatir menghadapi konsekuensi hukum seperti pelaku kriminal biasa, sehingga bisa bertahan bahkan setelah gagal. Tudingan terhadap afiliasi mereka, Lazarus Group, juga sudah lama muncul, termasuk kasus 2022 yang menurut AS melibatkan pencurian kripto bernilai ratusan juta dollar dari jaringan Ronin.
Dengan hasil yang besar, ambisi kelompok ini disebut mengarah ke perburuan target besar yang lebih sulit. Bagi komunitas internasional, pola tersebut menuntut kewaspadaan lebih tinggi terhadap penipuan, alat AI, dan rantai pembayaran kripto. Sebagai bacaan lain untuk memperluas konteks keamanan siber, Arsip artikel Publication Channel dapat dirujuk sebagai rujukan arsip. Halaman arsip itu membantu menelusuri deretan liputan terkait ancaman siber tanpa mengubah fakta utama berita.
Gambar utama merupakan ilustrasi yang dibuat dengan AI, bukan dokumentasi kejadian.
Topik dalam berita